MAT LONTONG: SERIAL AREK PENCENG bag 9


“Gak iso anteng tha?”

Emak Mintho yang sedang menjahit celana suaminya protes melihat Mintho yang terus saja mondar-mandir si ruang tengah. Mintho sendiri tampak begitu serius. Sebentar dia duduk di kursi, tak lama kemudian dia berdiri dan berjalan mengitari balai-balai rumah.

“Mintho anake pak Paeran, lek awakmu ora mandek tak dondomi bokongmu ngko!”

“Sopo mak?”

Emak Mintho menghentikan jahitannya. Diarahkan tangannya yang memegang jarum itu ke muka anaknya.

“Sopo maneh anake pak Paeran lek dudu awakmu. Opo bapakmu duwe anak liyo?”

“Opo’o sih mak?”

“Sik takon maneh. Ojo mubeng-mubeng koyok wong penceng, mumet aku ndelok awakmu. Anteng ngono ora iso tha? Lagian wes bengi, ndang turu kono. Sampek sesuk kawanen tangine awas kon!”

Mintho memandangi emaknya, membuat perempuan itu semakin kesal. Dalam hati dia mulai berpikir jangan-jangan anaknya itu akan minta sesuatu. Beberapa alasan mulai muncul di otaknya, mempersiapkan seandainya anaknya itu benar-benar akan meminta sesuatu. Tangannya kembali bermain dengan jarum dan benang.

“Aku wedi mak,” ucap Mintho pelan.

“Wedi lapo? Karo wewe tha? Sek durung mari tha?”

“Dudu mak, dudu wedi karo wewe.”

“Brarti awakmu gak wedi karo wewe.”

“Wedi mak.”

“Lah yok opo karepmu iku?”

“Aku wedi karo wewe tapi dudu iku sing kate tak omongno.”

“Trus wedi karo opo?”

Mintho diam. Sudah beberapa hari ini dia cemas. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Mungkin bukan hanya dia saja yang seperti ini, merasakan kekhawatiran yang sangat. Dia yakin teman-temannya juga merasakan hal yang sama, teman-teman yang besok akan menerima pengumuman kelulusan.

“Sesuk pengumuman mak.”

“Pengumuman opo?”

Mintho menarik nafasnya dalam. Emak memang tak pernah peduli, batinnya. Mintho sudah bilang pada emaknya dua hari yang lalu kalau besok hasil ujian akan diumumkan. Lulus atau tidak mungkin tak terlalu berarti untuk Mintho yang tidak akan melanjutkan sekolah lagi tapi ketakutannya pada emaknyalah yang membuat dia cemas. Emaknya pasti marah besar kalau sampai dia tidak lulus.

“Pengumuman kelulusan mak.”

Emak Mintho meletakkan jarumnya.

“Loh, sesuk tha?”

Mintho mengangguk.

“Trus opo masalahe?”

“Aku wedi lek ora lulus mak,” kata Mintho sambil tertunduk.

“Woo yo tak gibeng awakmu lek sampek ora lulus. Mbayar sekolah larang-larang kok ora lulus,” kata emaknya sewot. Sebuah jawaban yang Mintho bisa tebak.

Mintho mengangkat pantatnya dengan malas. Diseret kakinya menuju kamarnya. Saat seperti ini dia butuh emak yang bisa menenangkannya, mengatakan padanya kalau semua akan baik-baik saja, bukan sebaliknya. Bapaknya, jangan harap. Laki-laki itu terlalu lelah setelah bekerja seharian. Meski tak ngantuk, Mintho memaksa dirinya untuk bisa tidur. Besok dia harus bangun pagi dan pergi ke sekolahnya. Setelah sekian jam beperang dengan ketakutan akan tidak lulus di kepalanya akhirnya Mintho terlelap juga.

“Noor!Noor!Enteni!”

Mintho berlarian, berusaha mengejar sepupu jauhnya itu. Noor yang dipanggil bukannya memperlambat langkahnya tapi justru mempercepat langkah kakinya. Berbeda dengan Mintho yang masih cemas, Noor malah bersemangat. Dia yakin dia pasti lulus. Dia sudah belajar sungguh-sungguh agar bisa lulus. Dia sudah tak sabar menunggu hari ini karena dia ingin segera daftar ke tempat kursus menjahit.

“Cek bantere sih Noor,” kata Mintho ketika berhasil mengejar Noor.

Noor diam, acuh.

“Lapo sih cepet-cepet? Paling ngko jam songoan baru diumumne?”

“Males ae karo awakmu,” jawab Noor tanpa sedikitpun melihat ke arah Mintho.

“Lapo kok males? Aku ono salah tha Noor nang awakmu?”

“Gak seneng ae karo awakmu.”

“Opo sebabe?”

“Pikiren dewe.”

Mintho menggaruk-garuk kepalanya. Mintho tahu Noor memang selalu kasar padanya tapi Mintho tahu betul kalau Noor tidak benar-benar membencinya. Sepupu jauhnya itu memang selalu bersikap seperti itu tapi dalam hatinya sebenarnya dia baik. Dia hanya galak. Itu kenapa Mintho tak pernah bosan untuk terus berbicara pada Noor meski semua jawaban dari mulut Noor terdengar pedas.

Di sekolah teman-teman Mintho dan Noor sudah ramai. Mereka bergerombol di beberapa tempat, saling curhat, mengutarakan kecemasan masing-masing.

“Lek sampek ora lulus aku kate bunuh diri,” kata seorang anak perempuan.

“Hush, ojo omong ngono,” sahut temannya.

“Aku isin, aku yo wedi pisan karo bapak. Ngerti dewe kan bapakku sampek adol sapi nggo nyekolahno aku. Lek sampek aku ora lulus pasti wonge gelo, iso-iso ngamuk sisan.”

“Tapi ojo mikir koyok ngono, ora apik. Wes dungo ae lah, mugo-mugo lulus kabeh.”

Dan begitulah, semua siswa masih terus bercakap-cakap dengan temannya masing-masing sampai pukul sembilan lebih dua puluh lima menit ketika salah seorang guru memberitahu agar mereka masuk ke kelas masing-masing untuk diberi pengarahan terlebih dahulu.

“Yes!Aku lulus!Aku lulus!”

Mintho berteriak-teriak seperti orang kesetanan begitu dia membuka amplop yang diberikan wali kelasnya. Bukan hanya Mintho saja yang senang, sebagian besar temannya juga bereaksi sama begitu mengetahui kalau mereka lulus. Dari seratus tiga siswa yang mengikuti ujian nasional Sembilan puluh tujuh siswa berhasil lulus. Siswa yang tahu dirinya tidak lulus langsung menangis sejadi-jadinya bahkan ada yang pingsan. Pihak sekolah sudah melarang siswanya membuka amplop itu di sekolah tapi banyak siswa yang melanggar karena sudah tidak sabar.

“Noor, kon lulus ora?”

“Lulus lah,” jawab Noor.

“Podo Noor, aku yo lulus. Aku seneng!” teriak Mintho sambil terus melompat-lompat.

Plak!

Noor memukul kepala Mintho dengan buku yang dipegangnya membuat anak laki-laki itu mengaduh kesakitan.

“Opo’o sih Noor?”

“Biasa ae gak iso tha? Gak sakno koncomu sing gak lulus tha?”

Mintho terdiam. Dia terlalu senang sampai lupa kalau ada temannya yang tidak lulus. Mintho menggaruk-garuk kepalanya. Cengenggesan.

“Ayo Min, sido ora?” seorang anak laki-laki mendekati Mintho dan Noor.

“Sido no, saiki tha?”

“Hooh.”

“Gak melu tha Noor?”

“Nang ndi?”

“Tanda tangan. Arek-arek gowo pilok, nggo kenang-kenangan Noor.”

“Ora. Aku kate muleh. Ra sah aneh-aneh kon, seneni makmu mbuh ngko.”

“Pisan ae lho. Lagian sing penting lak lulus.”

“Karepmu, aku wes ngandani.”

Noor pun segera berlalu dan langsung pulang. Mintho dan beberapa temannya yang lulus berpesta pilok dan spidol. Seragam mereka yang semula putih telah berubah menjadi berwarna-warni dengan tulisan dan tanda tangan disana-sini. Para guru meminta siswanya segera pulang dan tidak berbuat onar demi melampiaskan kegembiraan mereka. Mintho dan beberapa temannya yang masih belum puas menuju ke sawah yang ada di belakang sekolah. Disana mereka berteriak-teriak, bernyanyi dan terus saja mencoret-coreti seragam mereka. Tidak ada konvoi sepeda, tidak ada yang mabuk-mabukan. Setelah puas mereka pun pulang. Sebelumnya mereka sudah janjian akan merayakan kelulusan dengan membakar jagung dan ketela bersama di salah satu rumah mereka.

“Mak aku lulus!”

Mintho berlarian menuju rumahnya, sudah tak sabar untuk memberi kabar baik pada emaknya itu. Emaknya yang tidur-tiduran di balai-balai rumah mengelus-elus dadanya karena kaget mendengar teriakan Mintho.

“Mak, aku lulus mak!”

Mintho berhenti tepat di depan pintu. Bibirnya yang siap berteriak ditutupnya rapat-rapat. Emaknya saat ini sudah berdiri tepat di depannya. Kedua tangannya berkacak pinggang. Emak Mintho baru pulang dari sawah dan ingin mengistirahatkan badannya sebentar tapi teriakan Mintho membuat perempuan itu terbangun.

“Aku lulus mak,” ucap Mintho pelan sambil mengacungkan amplop pengumuman.

“Trus opo’o? Lulus ngono ae bangga. Cek goblog’e awakmu iku,” kata emaknya sewot.

“Angel lho mak lulus iku.”

“Halah. Jenenge wong sekolah iku yo penggaweane sinau. Wong yo awakmu ora tau ngewangi emak karo bapakmu golek duit ae lho. Sekolah thok, ngono lek ora lulus opo ora kebacut?”

“Saiki ora koyok biyen mak. Luwih angel,” kata Mintho berusaha membela diri.

“Luwih larang iyo. Eh, iku opo’o klambimu?”

Jantung Mintho langsung berdetak kencang. Salah kalau dia mengira emaknya akan senang dengan berita kelulusannya. Salah juga kalau hanya karena dia lulus emaknya akan memaklumi perbuatannya mencoret-coret seragam sekolahnya.

“Iki mau karo arek-arek mak,” kata Mintho pelan.

“Arek sedeng!Klambi apik-apik malah dicoreti, jaluk diajar kon yo?”

Tangan Mintho yang memegang amplop mulai bergetar, takut. Kaki kanannya bergerak mundur perlahan. Matanya lurus menatap emaknya. Secepat kilat Mintho membalikkan badannya dan berlari ke luar rumah, ke jalanan.

“Kate mlayu nang ndi kon? Dasar arek gemblung!”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s