MAT LONTONG: Serial Arek Penceng bag 8


Karena takut sosok yang dulu dilihatnya di gudang tua akan terus menerus mendatangi mimpinya, Mat pun memutuskan membatalkan keberangkatannya ke Jakarta untuk diwawancarai secara eksklusif oleh salah satu televisi swasta nasional ternama di Jakarta. Begitu pun juga Mintho, pemuda yang mengidolai Mat itu tak mau berangkat jika Mat tidak ikut. Meski emaknya sudah berkali-kali meminta bahkan memaksanya, Mintho tetap saja menolak. Dia juga takut karena mimpi yang menghantui Mat juga dia rasakan. Beruntung dia sudah selesai Ujian Nasional jadi meskipun hampir setiap malam tidak bisa tidur karena ketakutan sekolahnya tidak terganggu.

“Pokoke aku wegah mak, emoh!”

“Wo, ancene arek mendo. Congok kon lek ora gelem. Kabeh uwong pingin mlebu tipi lha kok awakmu sing duwe kesempatan malah ora gelem. Opo ora congok iku jenenge?”

“Lek sampeyan pingin yo budalo dewe.”

“Lha dalah, malah kurang ajar karo wong tuwo. Wani kowe saiki karo makmu?”

“Lha sampeyan mekso-mekso. Sampeyan ora ngerti perasaanku. Aku iki ben bengi ora iso turu mak, wedi.”

“Wong yo mung ngipi ae opo sing diwedeni? Lagian ora ono ceritane menungso dipangan wewe. Iku mung khayalanmu ae.”

“Trus lek ngono nyapo kok sampeyan sek mekso ae, wong sampeyan dewe yo ora percoyo. Ngono kuwi jenenge ngapusi mak, duso. Iso-iso ngko aku dilebokno penjara lek ketemon ngapusi.”

“Malah ngandani wong tuwo. Maksudku kon iku moro ae, ngko critoo opo sing tok delok nang gudang. Masalah uwong percoyo opo ora iku terserah.”

Mintho menggeleng, kehabisan kata untuk membuat emaknya bisa mengerti. Sementara itu di rumah Mat justru sebaliknya. Mak Ni yang memang tidak setuju dengan panggilan wawancara itu bersyukur akhirnya anaknya bisa sadar. Mat yang sejak dihantui sosok itu dalam mimpinya tidur bersama emaknya, saat ini sedang mendengarkan petuah emaknya itu. Hal yang sangat langka, tidak pernah terjadi sejak Mat disunat sepuluh tahun lalu.

“Wong urip iku kewajibane usaha le tapi yo ora njur ngawur. Usaha sing apik, gawe dalan sing apik. Asal awakmu sabar pasti ono dalane. Kabeh iku wes ono mongsone.”

Mak Ni mengelus-elus rambut anak laki-laki satu-satunya itu. Tangannya yang sudah keriput dengan lembut membelai-belai, membuat Mat yang ada dalam pelukannya merasa tenang, damai.

“Iyo Mak. Aku ngerti saiki. Aku jaluk sepuro mak. Aku kapok.”

“Wes ora usah dipikirno maneh. Saiki sing penting masa depanmu, sing wingi-wingi wes kadung ora usah digetuni. Kon anakku siji-sijine Mat, opo sing tak lakoni iki yo mung nggo awakmu. Mak ora bakal nang kene trus ngancani awakmu, emak wes tuwo.”

Kata-kata emak membuat Mat semakin terharu. Tak terasa air matanya menetes, membasahi dada emaknya yang kering dengan tulang-tulang menonjol seolah ingin segera keluar. Mak Ni menghapus air mata Mat dengan ujung kebayanya. Hati perempuan separuh baya itu ikut trenyuh. Ada rasa sesal di hatinya karena tidak mampu memberi anaknya kebahagiaan. Kemiskinan telah menggurung mereka. Kemiskinan yang bukan hanya dia warisi dari orang tuanya tapi juga akan dia wariskan pada Mat, anaknya. Seandainya suaminya masih ada mungkin nasib mereka tidak akan seburuk ini, katanya dalam hati. Perempuan itu pun meneteskan air mata.

“Mak!” raung Mat.

Ibu dan anak itu pun banjir dalam tangis. Tak mau jauh memandang ke depan karena bayangan masih sangat suram, bayang-bayang kemiskinan.

“Aku sayang sampeyan mak,” kata Mat sambil terisak.

“Iyo le, mak ngerti.”

Dan malam di Pinggir Alas pun semakin gelap, menenggelamkan dua anak manusia itu ke dalam sebuah dunia yang bahkan tidak pernah indah. Bahkan mimpi pun sepertinya enggan berteman dengan orang miskin seperti mereka. Suara kodok dan jengkerik masih terus terdengar. Seolah mengerti perasaan Mat dan emaknya, mereka ikut menyenandungkan lagu, lagu yang meskipun terdengar sedih tapi mampu mengantarkan Mat dan emaknya ke alam yang lain. Lelap.

Seperti janji matahari, dia datang pagi ini, menerobos genting dan masuk ke kamar Noor. Noor mengucek kedua matanya, mencoba menyadarkan. Seperti juga Mintho, Noor telah menyelesaikan UJian Nasionalnya dan saat ini dia sedang menunggu hasil ujiannya. Bagus ataupun jelek tidak terlalu menjadi soal, asalkan lulus karena toh dia tidak akan melanjutkan ke jenjang kuliah. Noor sudah punya rencana, dia ingin les menjahit atau memasak. Cita-citanya adalah memiliki toko pakaian atau warung makan.

“Noor! Wes tangi durung Noor?”

“Wes mak,” jawabnya pelan.

“Gek ndang ewangi emak. Nyapu-nyapu opo umbah-umbah kono. Kae wedusmu yo wes bengak-bengok.”

“Iyo, sek.”

Dengan malas Noor bangkit. Setelah merapikan ranjangnya dia pun menuju meja riasnya. Di sebuah kursi kayu kecil Noor meletakkan pantatnya. Dengan lincah tangannya meraih sisir dan langsung menyisir rambutnya. Tak sabar rasanya ingin segera memanjangkan rambut. Tidak lama lagi karena dia akan segera lulus. Noor tersenyum-senyum sendiri membayangkan dirinya dengan rambut panjang dan hitam tergerai di punggungnya.

“Pasti ayu,” bisiknya.

“Noor! Noor!”

“Iyo Mak!”

Wajah Noor berubah cemberut. Mendengar suara emaknya membuatnya sadar ada tantangan besar yang akan dan harus dia lalui untuk mewujudkan keinginananya yaitu emaknya. Dia tidak yakin emaknya akan menyetujui rencananya. Dengan kesal dibanting sisir yang digenggamnya itu ke meja.

“Ndang nyapu opo umbah-umbah kono lho. Ojo ndekem ae nang kamar, wes awan iki,” omel emaknya.

“Aku tak umbah-umbah ae.”

“Yo gek ndang kono. Kae wes tak adahi nang timbo kabeh garek nggowo.”

“Digowo nang ndi mak?”

“Nang kali. Pipone mati, durung dibenakno karo pakmu dadi umbah-umbaho nang kali kono.”

“Malese mak,” keluh Noor.

“Ojo sambat ae. Gek ndang budal. Opo makmu iki yo ora kesel ket isuk wes nyapu teko ngendi-ngendi.”

“Aku tak nyapu omah ae.”

“Penakmen gundulmu. Selak srenggengene ilang, engko ora garing klambine.”

Meski kesal Noor menarik kakinya menuju dapur. Dipandanginya seember penuh pakaian kotor yang sudah disiapkan emaknya untuk dicuci. Mencuci bukan hal yang besar baginya tapi tentu berbeda jika dia harus mencuci di sungai. Jalan yang sempit dan curam serta lumayan jauh membuat Noor malas hanya dengan membayangkannya saja.

“Umbah-umbah Noor?”

“Ora. Macul!” jawab Noor kesal.

“Ngono ae nesu Noor, aku lho takok apik-apik.”

“Salahmu dewe, wong yo wes ngerti dadak takok barang.”

Mintho manyun. Niatnya untuk basa-basi ditanggapi Noor dengan omelan. Noor duduk di salah satu batu besar yang ada di sungai. Tangannya yang cekatan sibuk menggosok, membanting baju-baju kotor, membuat busa-busa sabun cuci bercipratan kemana-mana. Mintho yang duduk di sampingnya pun tak luput terkena busa tapi dia diam saja, tidak berani. Noor mengusap peluhnya yang mulai menetes dari keningnya.

Perlahan Mintho menjauh. Di antara bebatuan dia merangkak, takut tercebur ke sungai. Air bening sungai yang saat ini sedang surut debitnya menampakkan dasar sungai yang penuh pasir dan bebatuan kecil. Di antara dua batu besar Mintho berhenti. Tubuhnya yang lumayan besar masih kalah dengan batu besar di sampingnya, tertutup. Noor masih sibuk dengan cuciannya. Sesekali dipandanginya kerbau yang sedang dimandikan pemiliknya.

“Hiii…nggilani. Sopo sing kurang ajar iki?”

Noor bergidik melihat benda asing yang hanyut terbawa arus ke arahnya. Dengan sigap ditariknya baju yang sedang dicucinya.

“Ora duwe dugo! Ngeseng sembarangan, ora ngerti opo lek enek wong umbah-umbah. Jaluk diajar opo piye?”

Noor berdiri di atas batu yang tadi didudukinya. Matanya beredar ke pelosok sungai, mencari sesuatu. Meski jijik diambilnya sebuah batu kecil dari dasar sungai. Dengan sekuat tenaga dilemparkannya ke arah bebatuan besar yang ada di depannya.

“Pluk!’

Air muncrat begitu batu yang dilempar Noor mengenai sungai. Mintho yang kaget langsung memaki. Dengan cepat dia menaikkan celananya. Kurang ajar betul orang yang berani melemparinya dengan batu itu, batinnya.

“Kurang asem! Jaluk digibeng opo piye?”

Begitu Mintho berdiri dan melihat ke sekelilingnya, sesosok wajah yang tidak asing sudah menantinya.

“Arek penceng! Kon wes gendeng yo?”

Mintho yang tadinya ingin marah saat ini sebaliknya justru berubah menjadi takut.

“Opo’o Noor?”

“Opo’o dengkulmu njepat! Matane ora delok tha lek enek wong umbah-umbah nang kene?”

“Lha yok opo? Aku kebelet’e Noor?”

“Lek ngeseng iku nang kono, awor kebo. Ojo nang duwur. Lha taekmu opo ra kenter nang kene. Yok opo lek ngeneki klambiku, heh?”

“Sepurane Noor,” kata Mintho memelas.

“Awas kon yo!”

“Ampun Noor.”

Mintho yang ketakutan ingin cepat-cepat menyingkir tapi apa daya karena tidak hati-hati kakinya terpeleset dan jatuh ke sungai.

“Kapok kon!”

Sebagai hukuman Noor memaksa Mintho membantunya menyelesaikan cucian dan tentu saja Mintho tidak berani menolak meski dalam hati dia terus menerus ngomel.

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s