MAT LONTONG: SERIAL AREK PENCENG bag 7


Sudah seminggu lebih berlalu sejak peristiwa pingsannya Mat Lontong di gudang tua bekas penggilingan padi tapi sampai saat ini warga desa Pinggir Alas masih terus membicarakannya. Mat Lontong yang pingsan setelah melihat penampakan Kuntilanak bersama Mintho sudah pulang ke rumahnya setelah rencana minggatnya yang gagal. Jangankan mendapat sebuah kaos seperti yang diidam-idamkannya, Mat justru mendapat pukulan dan omelan dari Mak Ni yang kesal dengan kelakuan anaknya itu. Bukan hanya dari mulut ke mulut tapi saat ini berita mengenai Kuntilanak di gudang tua sudah menyebar lewat koran bahkan televisi. Seperti pagi ini, seorang reporter dari sebuah stasiun televisi swasta lokal sudah siap untuk mewawancarai Mat Lontong dan Mintho.

“Mas sudah siap kan?”

“Eh…iya Mbak tapi nanti saya bilangnya gimana?”

“Lho kan tadi sudah latihan. Pokoknya nanti Mas cerita apa yang Mas lihat di gudang malam itu.”

“Bang aku ndredek,” kata Mintho.

“Tenang boi, ojo ngisin-ngisini. Mlebu tipi awake dewe iki.”

“Tapi aku durung tau Bang. Wingi-wingi lak aku nggak melu diwawancarai.”

“Wes tha, kon melu-melu aku ae. Kesempatan emas iki boi, awake dewe iso terkenal dan sopo ngerti ngko digowo nang Jakarta. Yok opo menurutmu?”

“Sip Bang, masuk iku,” kata Mintho sambil tersenyum-senyum.

Mintho yang baru mengikuti Ujian Akhir Nasional sebelumnya memang tidak ikut diwawancarai, jika pun ada yang datang ke rumahnya untuk menanyakan peristiwa malam itu emaknya lah yang akan menjawab. Sepertinya emak Mintho sudah ikut-ikutan terkena sindrom pingin terkenal seperti Mat yang selalu menjadi buah bibir sejak peristiwa itu.

“Siap ya?” tanya sang reporter.

“Sudah Mbak.”

Reporter cantik itu pun mulai membuka wawancaranya. Menurut rencana hasil wawancara nanti akan ditayangkan di berita siang dan akan ditayangkan ulang di berita petang yang merupakan berita berbahasa jawa.

“Mas, iso diceritakno opo sing sampeyan ndelok bengi iku nang gudang?”

Mat membetulkan poninya, matanya melirik ke arah kamera. Sejenak dia menarik nafas panjang. Mintho yang duduk di sampingnya hanya mengamati panutannya itu sambil terus mencoba mengendalikan detak jantungnya yang masih saja berdegup kencang.

“Bengi iku aku lagi rapat karo koncoku Mintho iki Mbak.”

“Rapat? Kok rapat nang kono? Sering ta rapat nang kono?”

“Ora Mbak, cuma bengi iku. Biasane kene rapat nang stasiun IlangStres Fm. Iyo kan Min?”

“Iyo..iyo bener Mbak. Bengi iku kene kate ngomongno masalah penting dadi nggak pingin ono sing ngerti makane awake dewe milih nang gudang ae.”

“Trus sing sampeyan delok iku koyok opo wujude?”

Mat Lontong kembali menarik nafas, seolah berat mengingat kembali peristiwa malam itu, membuat sang reporter cantik itu jadi deg-degan.

“Rambute dowo Mbak, ndemok lantai. Klambine putih yo dowo pisan. Wajahe nggak pathek jelas soale rambute awut-awutan nutupi raine. Koyo sing nang tipi-tipi iku lho Mbak.”

“Gegere bolong Mbak trus ono set’e. Lek nggak salah waktu iku yo ono suarane bayi. Medeni pokoke,” tambah Mintho tanpa diminta.

“Lho trus sing sampeyan-sampeyan delok iku sakjane Wewe Gombel opo Sundel Bolong?”

Mat dan Mintho saling berpandangan.

“Wewe!” kata Mat bersamaan dengan Mintho yang menyebut makhluk yang dilihat mereka malam itu adalah Sundel Bolong.

Sang reporter cantik tampak bingung sejenak sebelum kemudian memberi tanda pada sang kameraman untuk berhenti mengambil gambar.

“Wes mari tha Mbak?” tanya Mat.

“Sementara cukup ini aja dulu.”

Meski wawancara sudah selesai Mat dan Mintho tidak beranjak pergi. Mereka bersama orang-orang Pinggir Alas yang pagi itu berkumpul di depan gudang untuk melihat proses liputan yang dilakukan sang reporter beserta krunya. Tampak juga beberapa wartawan koran yang sibuk mengambil gambar beberapa sudut gudang.

“Pak boleh tanya?”

Seorang wartawan tabloid mingguan yang khusus mengupas hal-hal mistik tampak sedang mencari informasi.

“Monggo,” kata seorang warga.

“Kira-kira gudang ini berapa umurnya? Maksud saya sudah berapa lama ada?”

“Sudah lama Mas. Sakjoke aku cilik yo wes ono. Jare bapak biyen gudang iki peninggalan jaman londo Mas dadi yo wes tuwek banget umure.”

“Sejak kapan tidak beroperasi?”

Bapak yang ditanyai tampak bingung. Temannya yang ikut-ikut bergerombol juga tampak tidak mengerti.

“Maksude pripun Mas?”

“Sudah berapa lama nggak dipakai lagi? Dulu ini kan tempat penggilingan padi, bukan begitu Pak?”

“Oalah maksude sakjoke kapan ora digawe nggiling maneh Kang,” sahut sang teman.

“Ooo. Yo wes suwe pisan Mas. Kiro-kiro wes rong puluh tahun luweh.”

“Kenapa Pak? Apa karena berhantu?”

“Wah kurang ngerti Mas. Tapi lek nggak salah sakjoke sing duwe mati. Anak-anake ora gelem nerusno ngurus penggilingan dadi dijarno mangkrak.”

“Memang pemiliknya siapa Pak?”

“Pak Sastro. Sugeh Mas tapi keluargane ora ono sing manggon nang kene, nang kutho kabeh.”

“Lek ora salah jare uwong-uwong biyen Pak Sastro iku nginggu yo Kang? Makane sugehe ora jamak. Lek aku yo wegah. Masio sugeh lek bakale mati ngenes ngono sopo sing gelem,” tambah sang teman.

“Mati ngenes gimana Pak?”

“Lho Mas’e nggak ngerti ya? Yang punya gudang ini kan matinya ketiban usuk, sirahe bocor. Getihe ora karu-karuan Mas. Makane keluargane ora ono sing gelem nerusno trus podo pindah nang kutho, selain karena wedi dadi lebon kluargane yo isin karo warga.”

“Jadi maksudnya arwah Pak Sastro yang dilihat Mat dan Mintho waktu itu Pak?” tanya wartawan yang semakin penasaran.

Sang bapak, Lek No, yang melihat sang wartawan lebih tertarik dengan cerita temannya tampak tak rela. Tidak mau kalah dengan temannya dia pun langsung menyahut.

“Iya Mas. Gudang iki ancen ono demite, makane ora ono sing wani mrene.”

“Jadi memang sudah lama gudang ini berhantu?”

“Betul.”

Sang teman memandang penuh iri ke Lek No. Wartawan yang tadi tertarik dengan ceritanya kembali mengarahkan perhatiannya ke Lek No.

“Tapi bukannya hantunya seorang wanita? Kuntilanak?”

Lek No terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Sang teman pun melihat sebuah kesempatan emas.

“Yang mereka lihat itu hantu yang dipelihara Pak Sastro Mas. Hantu yang membantunya biar bisa kaya.”

“Trus suara bayi yang mereka dengar itu bagaimana Pak?”

Dalam hati sang teman tersenyum karena berhasil mengalihkan perhatian sang wartawan.

“Kalo Mas meminta bantuan setan untuk bisa kaya pasti kan ada imbalannya Mas, ada syaratnya. Pak Sastro harus menjadikannya istri jadi suara bayi itu ya anak setan itu sama pak Sastro.”

Dan begitulah cerita hantu itu berkembang bahkan semakin tak terkendali. Semua koran, tabloid berlomba-lomba memberitakannya meski tampaknya mereka punya versi mereka sendiri. Apa yang dibayangkan Mat Lontong sebelumnya sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Seorang reporter dari stasiun televisi swasta nasional telah mewawancarainya dan kemungkinan besar dia akan mengajak Mat juga Mintho ke Jakarta untuk wawancara eksklusif.

“Yok opo Mak? Percoyo ora sampeyan saiki? Kandani kok, anakmu iki ora main-main,” kata Mat.

“Ati-ati kon Mat. Lek setane ngamuk goro-goro omahe diobrak-abrik wong kono ngono kon pasti ngko digoleki,” kata Mak Ni.

Perempuan itu tak seperti Mat yang saat ini sedang menikmati kepopulerannya karena cerita hantu di gudang tua. Kaos yang tadinya hanya impian sekarang sudah terpajang rapi di kamarnya. Stasiun televisi yang mewawancarainya memberi imbalan sejumlah uang bahkan dia juga mendapat beberapa souvenir. Yang lebih menyenangkannya, Noor, kekasih gelapnya, yang selama ini tak pernah membalas suratnya kemarin memberinya surat yang dia titipkan pada Mintho.

“Sampeyan iki Mak ancen ra tau seneng lek anake seneng,” omel Mat.

“Aku wes ngandani, lek ono opo-opo ojo nyalahno aku. Setan kok dienggo dolenan.”

Mat menjulurkan lidahnya ke arah emaknya yang sedang sibuk dengan lontongnya, tentu saja tanpa sepengetahuan emaknya itu. Dulu dia memang takut, bahkan kadang masih merinding jika mengingatnya tapi apa yang dia terima saat ini mampu menghapus ketakutannya itu. Dia benar-benar sudah lupa daratan.

“Mat! Mat!”

Sebuah suara tiba-tiba membangunkan Mat yang sedang lelap. Awalnya hanya sayup-sayup tapi lama kelamaan semakin jelas. Malam di Pinggir Alas kali ini terasa tak seperti biasanya, lebih dingin. Mat seolah berada di kutub utara, kedinginan. Bulu kuduknya mulai berdiri dan yang mengherankan dengan hawa yang begitu dingin keringat Mat justru bercucuran.

“Mak! Sampeyan tha iku?”

Mat turun dari ranjangnya tapi kemudian menggurungkan niatnya dan segera kembali ke atas ranjangnya. Di pojok ranjang dia menggigil. Dipeluk bantal kesayangannya dengan erat.

“Mat!”

Suara tadi masih terus memanggil namanya. Jelas sekali kalau itu adalah suara seorang perempuan. Tubuh Mat bergetar, bayang-bayang setan perempuan yang dilihatnya di gudang waktu itu kembali menghantuinya.

“Makkkkkkkkkkkkkk!”

Sekuat tenaga Mat berteriak memanggil emaknya tapi yang dipanggil seolah tak mendengar. Hal yang tidak mungkin sebenarnya mengingat kamar Mak Ni dan Mat yang berdampingan. Kamar yang hanya terbuat dari dinding bambu itu jangankan meredam teriakan, dengkuran Mat ketika tidur saja terdengar jelas dari kamar emaknya.

“Mak tolongono aku!”

Mat masih berteriak. Seperti yang dia takuti, sosok yang dulu pernah dilihatnya di gudang tua itu saat ini berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Masih dengan baju putih dan rambut panjangnya yang sepertinya saling berlomba menyapu lantai, sosok itu mendekati ranjang Mat membuat pemuda itu kehilangan kendalinya. Entah sejak kapan yang pasti saat ini ranjangnya sudah basah oleh air kencingnya.

“Makkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!”

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s