MAT LONTONG: SERIAL AREK PENCENG bag 6


Entah berapa kali Mat Lontong membolak-balikkan badannya, mencoba mencari posisi yang nyaman mesti tak juga ditemukannya. Ditepuk, dipeluk, diremas, ditutupkan ke wajahnya bantal yang umurnya lebih tua seminggu darinya itu. Bantal yang selalu menemani dan telah menemaninya tidur seumur hidupnya. Bantal yang bahkan terlalu kecil untuk kepalanya. Tidak hanya kumal, bantal bayinya itu pun telah kehilangan keempukannya karena dimakan umur. Sebenarnya bantal itu punya pasangan dua buah guling tapi sudah tak lagi ada wujudnya sekarang. Guling yang pertama hilang ketika gempa memporak-porandakan desa Pinggir Alas tiga belas tahun yang lalu sedang guling yang kedua terkoyak oleh gigitan tikus.

Tak bisa tidurnya Mat bukan tanpa alasan. Dia kesal dengan emaknya yang tak juga membelikan dia kaos yang diidam-idamkannya. Kaos yang dilihatnya di stasiun radio IlangStres FM. Bagi orang lain mungkin kaos itu tidak istimewa apalagi menarik tapi tidak bagi Mat karena kaos itu adalah kaos yang biasa dipakai idolanya. Dia pernah melihatnya di televisi dan dia ingin sekali memiliki kaos itu. Tujuh puluh lima ribu rupiah harga yang dibandrol dan saat ini tinggal dua buah kaos yang tersisa. Otak Mat terus berputar, memikirkan cara untuk mendapatkan kaos itu. Emak yang menjadi satu-satunya harapan untuk membelikannya kaos itu tak juga menunjukkan tanda-tanda akan mengabulkan keinginannya itu.

”Ancik!”

Mat memaki. Otaknya buntu, tak ada ide. Malam semakin menunjukkan kuasanya lewat dingin yang terasa menusuk tulang-tulangnya. Jangkrik dan kodok masih bersahutan seolah berlomba menunjukkan siapa yang lebih merdu suaranya. Aliran air sungai di belakang rumah Mat menambah musik alam malam ini. Suara yang membuat Mat semakin kesal, suara yang dikambinghitamkan oleh Mat telah membuatnya tak bisa tidur.

”Mat! Mat!”

Pagi belum lagi turun tapi Mak Ni sudah sangat sibuk di dapurnya. Perempuan itu sudah bangun sejak pukul dua dan saat ini sedang mempersiapkan dagangannya. Karena tidak mendapat jawaban Mak Ni pun mengomel sendiri. Dia tahu betul kebiasaan anak laki-lakinya itu. Mengharapkan bantuan Mat baginya sama dengan mengharapkan harga beras turun, tidak mungkin. Dan kembalilah Mak Ni hanyut dengan pekerjaannya sampai akhirnya semua sudah siap dan dia pun berangkat, menjajakan lontong tahu keliling desa.

”Aku nggak ngerti Mak, sedino iki aku durung ketemu abang,” jawab Mintho.

”Lha sopo sing goleki abang? Aku goleki Mat.”

”Iyo Mak maksudku yo Bang Mat. Emange lapo Mak?”

”Ket tak tinggal dodol wingi nane sampek saiki areke ora ono nang omah, ora muleh.”

”Mendah tho Mak?”

”Lha nyapo aku mbujuki awakmu. Tak pikir lek dolen karo awakmu, biasane lak Mat ngluthuse karo awakmu tho Min?”

”Iyo sih Mak tapi aku nggak ngerti Mak, sumpah. Aku kate ujian Mak dadi ora dolen-dolen, aku sinau.”

”Ora pesen awakmu?”

”Ora Mak. Aku ket wingi nane ora oleh metu, karo Mak kon sinau terus cek lulus.”

Emak Mintho yang baru datang dari hajatan tampak kaget mengetahui Mak Ni ada di rumahnya.

”Ono opo yu? Dengaren bengi-bengi dolen mrene?” tanyanya.

”Ki lho Yah, aku goleki Mat. Kaet wingi nane areke ora muleh, tak pikir lek dolen karo anakmu.”

”Iya tha. Wah nang ndi anakmu yu? Ngerti ora kon Min?”

”Ora ngerti aku Mak, aku wes suwi ora ketemu,” jawab Mintho.

”Biasane lak ngluyur karo awakmu?”

”Iyo tapi iki ora Mak, aku lho sinau terus. Minggu ngarep aku ujian Mak.”

Karena tidak mendapat informasi tentang anaknya, Mak Ni pun memutuskan untuk pulang selain karena juga sudah semakin malam. Mintho bukan satu-satunya teman Mat yang sudah dia tanyai, sebelumnya Mak Ni juga sudah ke rumah saudara-saudaranya bahkan Mak Ni juga sudah ke stasiun radio IlangStres FM tapi semuanya nihil, tidak ada kabar mengenai anaknya. Di kepalanya mulai berkecamuk pikiran-pikiran buruk, dia takut terjadi sesuatu pada anaknya. Meski Mat sering membuatnya kesal dan lebih sering merepotkan daripada membahagiakannya tapi Mat adalah anak satu-satunya, keluarga yang dia miliki. Mat memang sering keluyuran tapi dia selalu pulang seberapa malam pun dan kalaupun tidak pulang dia selalu pamit pada emaknya.

”Piye boi, Mak goleki aku opo ora?”

”Iyo Bang. Aku sempet wedi, wedi lek konangan. Aku kan ora biasa mbujuki.”

”Tapi Mak ora curiga kan?”

”Tenang Bang, percoyo aku. Beres wes. Tapi sampek kapan Bang? Aku ndelok Mak Ni kok yo mesakne.”

”Sek boi, nunggu sampek Mak nukokno aku kaos. Sia-sia lak’an engko.”

Mintho mengangguk-angguk. Malam itu ketika Mat tidak bisa tidur sebuah ide tiba-tiba muncul. Dia memutuskan untuk pura-pura minggat agar emaknya mau menuruti keinginannya, membelikannya kaos yang sudah diincarnya. Dengan bantuan Mintho, Mat mengatur rencana. Kebetulan tidak jauh dari rumah Mintho, tepatnya di belakang kebunnya, ada sebuah gudang tua, bekas penggilingan padi, yang sudah lama tidak dipakai. Disitulah Mat tinggal selama masa minggatnya, dua hari ini. Sebuah ide yang sebenarnya tidak begitu disukai Mat karena gudang tua itu terlihat seram, angker tapi demi mencapai keinginannya Mat pun akhirnya memberanikan diri. Setiap hari Mintho datang membawakannya makanan juga menemaninya ngobrol sampai malam sambil mengatur rencana.

”Temen tha Mak Mat ilang?” tanya Noor ketika Mak Ni mampir untuk menjajakan tahu lontongnya.

”Mbuh arek gemblung iku. Ki wes telung dino areke ora muleh. Koyok wong sugeh ae kathek minggat-minggatan,” jawab Mak Ni kesal.

”Emange ono masalah opo Mak?”

“Aku yo ora paham. Biyen sih jaluk tukokne kaos tapi mosok goro-goro ora ditukokno trus minggat. Memange lek minggat trus duwit iso ceblok ko langit, iso tuku kaos? Wong nggo mangan ae ben dino kudu ider ngene. Mbuh Noor pecah ndasku lek mikir arek iku. Tuwek tapi kok polahe sek koyo ngono.”

“Sing sabar ae Mak. Engko lek ono brita tak kabari sampeyan.”

”Iyo. Suwun lho Noor. Iki tahu lontonge,” kata Mak Ni sambil menyerahkan kembali piring Noor.

Dan seperti biasa Mak Ni pun kembali berkeliling menjajakan tahu lontongnya. Kakinya yang tanpa alas memijak, menyusuri tanah Pinggir Alas yang keras dan naik turun. Matahari yang bersinar dibalik daun-daun jati menerangi jalannya demi sekian rupiah untuk melanjutkan hidupnya esok hari. Sesekali pikirannya kembali ke Mat tapi segera ditepisnya pikiran-pikran buruk itu. Tidak mungkin anaknya yang manja itu akan bunuh diri, dia terlalu takut untuk mati. Apa juga ada yang mau membunuhnya karena meski anaknya itu menyebalkan tapi dia tidak pernah punya masalah dengan orang-orang? Kalaupun ada yang ingin merampoknya, apa yang mau dirampok? Jaket buluknya atau sepatunya atau giwangnya yang hanya imitasi itu? Tak ada yang menarik apalagi berharga.

Malam ini adalah malam keempat sejak kepergian Mat dari rumahnya. Tak jauh berbeda dengan malam sebelumnya malam ini pun Mat tidak bisa langsung tidur. Bahkan dari siang dia terlihat lebih cemas dari biasanya. Meski rencananya pada akhirnya sudah mulai menunjukkan ke arah keberhasilan, hampir semua orang di desa Pinggir Alas mengetahui kalau Mat menghilang, tapi tidak mengurangi rasa khawatir pada diri Mat. Bukan lagi tentang rencananya tapi Mat khawatir dengan keselamatannya. Sejak pertama tinggal di gudang tua ini Mat sering mendengar suara-suara aneh. Yang lebih menakutkan semalam Mat sempat melihat bayangan putih berkelebat dari arah pintu belakang gudang.

”Piye boi, Makmu percoyo kan?”

”Iyo Bang akhire oleh karo Mak. Aku wes bingung mau kate omong opo, lha wong Mak ora percoyo.”

”Sip lek ngono. Awakmu nggowo opo boi?”

“Onok’e telo Bang soale Pak’e mau kenduri trus dipangan bareng-bareng.”

“Ora popo sing penting mangan.”

Mat pun langsung melahap singkong rebus yang dibawakan oleh Mintho. Rasa cemasnya sedikit terhibur dengan kedatangan Mintho, setidaknya malam ini dia tidak tidur sendiri. Rasa khawatir justru menghinggapi Mintho saat ini. Bukan hanya karena dia telah membohongi emak dan bapaknya tapi juga karena dia tahu betul ini malam jum’at dan berada di gudang tua ini bukanlah sebuah pilihan yang bagus. Mata Mintho menyisiri seluruh bagian gudang, atap yang sebagian sudah ambrol, kayu-kayu lapuk meski tak begitu jelas karena saat ini mereka hanya ditemani lampu petromak yang diambil secara diam-diam oleh Mintho dari rumahnya.

Gudang tua ini begitu besar. Tak ada sekat, hanya sebuah ruang yang begitu luas dengan dua buah pintu depan dan belakang. Dan saat ini Mintho dan Mat berada di tengah-tengah gudang, di atas tumpukan jerami yang mereka pakai sebagai alas duduk juga tidur. Mat masih asyik dengan singkong rebus, sepertinya dia begitu kelaparan. Untuk beberapa saat Mintho hanya diam sambil mengawasi sekitarnya.

”Gusti!” tiba-tiba Mintho berteriak.

“Opo’o boi?” Mat yang sedang makan terkejut mendengar teriakan Mintho.

”A…anu Bang, ketoke aku ndelok sesuatu,” jawab Mintho tergagap.

”Ndelok opo boi? Ojo meden-medeni,” tanya Mat.

Dalam hati Mat juga cemas. Dia takut apa yang dilihatnya semalam benar adanya dan saat ini Mintho juga melihatnya.

”A..aku nggak ngerti Bang. Mung sak klebatan thok.”

Mintho menggeser duduknya, mendekati Mat. Mat yang juga tidak lebih berani dari Mintho pun tak keberatan bahkan sedikit tenang.

”Iku…iku opo Bang?”

Mintho kembali berteriak ketika bayangan yang tadi tak begitu jelas dilihatnya saat ini muncul lagi.

”Opo? Endi boi?” Mat semakin cemas.

Dari arah pintu belakang bayangan yang tadi dilihat Mintho saat ini semakin jelas. Mat yang tadi tak melihatnya sekarang hanya bisa membelalakkan matanya. Sebuah sosok yang selama ini hanya dilihatnya di televisi, di sinetron dan film-film horor Indonesia terpampang jelas di depannya, sekitar tujuh meter dari tempat dia dan Mintho duduk saat ini.

”Me…medon!”

Mat dan Mintho pun langsung berdiri. Kaki keduanya bergetar, keringat dingin mulai bercucuran.

”Wewe Bang…iku wewe.”

”Medon boi iku dudu wewe,” kata Mat tak kalah takut.

Ingin hati segera berlari tapi entah kenapa rasanya kaki mereka terpaku ke tanah. Sedang sosok yang dilihat Mat dan Mintho tampak tak bergerak. Sosok yang meski tak jelas jenis kelaminnya bisa dipastikan adalah seorang perempuan. Rambutnya yang panjang terurai hampir sampai ke pinggang, menutup sebagian mukanya. Tak terlhat matanya, tak jelas wajahnya. Bajunya panjang putih dengan noda kecoklat-coklatan.

”Bang! Bang!” Mintho berteriak memanggil Mat yang entah kapan sudah terkapar di lantai, pingsan.

”Wewe!” Mintho berteriak keras sambil berlari keluar dari gudang.

Tak dihiraukannya Mat yang tergeletak tak sadarkan diri. Yang dipikirkannya adalah secepatnya menyelamatkan diri. Mintho masih berteriak-teriak meski dia sudah berhasil keluar dari gudang. Suaranya memecah sunyi malam di dusunnya, membuat emak dan bapaknya yang sedang tidur pulas terbangun. Entah sudah apa saja yang ditabrakkannya, Mintho sudah tidak peduli. Dia terus berlari dan karena kalutnya bukannya berlari ke rumahnya dia malah berlari ke arah sungai.

Byur!

Karena gelap dan kalap tanpa sadar Mintho terperosok ke sungai. Tubuh pemuda tanggung itu pun basah kuyup. Beruntung karena sungai itu tidak terlalu dalam. Dengan merangkak dia berusaha naik kembali ke daratan. Tubuhnya menggigil kedinginan.

”Akh!We…wewe!”

Sekali lagi Mintho kembali terperosok ke sungai karena kaget di depannya tiba-tiba muncul sebuah sosok.

”Wewe ndasmu amblek!”

”Lapo kon bengi-bengi kungkum? Wes kencrit yo?”

Rupanya emak dan bapaknya juga beberapa warga yang mendengar teriakan Mintho berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi dan mencari ke arah suara itu muncul. Mintho masih terengah-engah meski sedikit lega mengetahui kalau bukan sosok yang dilihatnya di gudang yang saat ini ada di depannya. Sementara itu di dalam gudang sosok yang biasa disebut kuntilanak itu mendekati Mat yang masih belum sadar dari pingsannya. Dengan terseok dia berjalan. Bajunya yang panjang menyapu lantai gudang yang penuh dengan jerami. Perlahan dia jongkok di samping Mat yang mulai memperoleh kesadarannya. Telapak tangannya yang menghitam tampak menyapu pipi Mat sedang rambutnya yang panjang sebagian jatuh mengenai wajah pemuda itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s