MAT LONTONG: serial Arek Penceng bag 5


“Mat, sesuk ewangi Mak dodolan,” kata Mak Ni pada anaknya.

Mat yang sedang asyik berdandan tak menyahut. Tangannya tampak tangkas menyisir rambut berombaknya yang sudah direbonding dua tahun lalu, kaku. Anting di telinganya bergoyang tiap kali dia menggerakkan kepalanya, mencari-cari yang belum tepat dengan penampilannya.

“Mat!”

Mak Ni yang jengkel karena tidak mendapat sahutan pun berteriak, membuat pemuda itu kaget.

“Opo sih Mak? Katek mbengok-mbengok barang.”

“Opa-opo. Yo kon iku lek dijak omong wong tuwek dirungokno, ojo mbidek ae. Sesuk ewangi Mak dodolan, minggu-minggu biasane rame.”

“What? No way!” tolaknya.

“Ngomong opo kon iku? Sesuk aku kate dodolan nang lapangan. Ono tanding bal-balan antar dusun, pasti rame.”

Mat meletakkan sisirnya ke kantong belakang celana dan mendekati emaknya yang sedang sibuk merapikan daun pisang untuk membuat lontong.

“Ora iso Mak, aku wes duwe janji.”

“Janji opo? Ojo kakean alasan kon. Aku iki wes tuwek Mat, kapan kon kate ngenakno Makmu iki? Ora gelem kerjo, penggaweane ben dino nyonya-nyanyi ra jelas, nyangkruk koyok wong yes ae. Lek koyok ngene ae trus kapan kon iso rabi, heh?”

“Halah Mak, ngunu ae dipikir. Aku iki sek usaha, sampeyan sing sabar tha. Ora ono sing cepet saiki, kudu sabar. Engko lek aku iso mlebu tipi opo sampeyan ora seneng?”

“Ora. Lha kate lapo awakmu mlebu tipi? Wong tipi ae yo ra gablek. Wes ora usah aneh-aneh, ora usah mikir duwur-duwur lek ceblok mundak loro. Ndang kerjo, golek duit, golek bojo. Koncomu wes podo rabi kabeh, garek kon iku sing ora payu-payu,” kata Mak Ni kesal.

“Angel omong karo sampeyan iku Mak, ora nyandak. Wong urip iku yo kudu duwe cita-cita ojo mung trimo karo nasib.”

“Kakean cangkem. Lek ora kerjo trus kate mangan opo? Iyo lek Makmu iki iso urip terus, lek aku mati yok opo kon? Sopo sing kate ngopeni awakmu?”

“Ojo omong ngunu tha Mak. Aku janji Mak, pokoke sampeyan percoyo ae karo aku. Dungakno ae, lek aku sukses sampeyan kate njaluk opo ae tak turuti.”

“Omong kawul! Wes kono jupukno kayu nang mburi, aku kate godhok lontong.”

Mat pun menyeret kakinya ke belakang rumah. Tidak ada gunanya mendebat emaknya itu, emak tidak akan mengerti. Tidak masalah kata batinnya. Baginya saat ini yang penting dia mempunyai Noor, pacar barunya. Noor juga yang selalu membuatnya semangat untuk mengejar cita-citanya menjadi artis terkenal seperti idolanya. Tidak ada yang mudah, dia sadari betul itu tapi tidak ada yang tidak mungkin dan dengan adanya Noor di sampingnya semua akan lebih mudah, mungkin. Mat tersenyum-senyum sendiri membayangkan kekasih hatinya itu.

Hari minggu, desa Pinggir Alas terlihat lebih ramai dari biasanya. Mulai matahari muncul di timur tadi banyak orang berbondong-bondong ke lapangan yang biasa dipakai untuk pertandingan, upacara tujuh belasan juga menggembala ternak itu. Seperti yang dikatakan Mak Ni semalam, hari ini ada pertandingan sepak bola antar dusun. Pesertanya adalah para pemuda sedesa Pinggir Alas. Di pinggir lapangan lapak-lapak darurat para pedagang yang mencoba mencari peruntungan mulai ramai. Begitu juga dengan Mak Ni. Meski tanpa lapak khusus Mak Ni sudah siap dengan dagangannya, tahu lontong. Seperti biasa dia membawa dagangannya itu dalam sebuah bakul, keranjang bambu, tapi karena kali ini tidak menjajakan ke rumah-rumah Mak Ni meletakkan dagangannya di atas tanah lapangan, tak digendong.

Perempuan separuh baya itu tampak semangat, sesemangat para pemuda desa yang kelihatan gagah dengan seragam bola sumbangan warga masing-masing dusun. Saat yang ditunggu-tunggu semua orang, setelah panen raya saat seperti ini adalah ajang para warga bersuka cita. Bisa dikatakan sebagai cara menyukuri panen yang melimpah musim ini. Tidak ketinggalan, para gadis-gadis desa yang juga ditunggu-tunggu. Pagi-pagi sudah rapi demi menyaksikan idaman hati mereka bertanding. Anak-anak kecil sudah ribut, berlarian di lapangan juga jajan. Belum juga pertandingan dimulai tapi sebagian uang saku mereka sudah hampir habis.

“Ayo Bang. Ojo suwi-suwi, selak mulai.”

“Sabar Tho, gak mungkin mulai lek aku durung teko,” jawab Mat sambil menyisir rambutnya.

“Tapi wong-wong wes podo budal Bang,” kata Mintho cemas.

“Wong ndeso, ora tau ndelok rejan-rejan. Awake dewe lak bedo, wes tha lah santé ae. Ngomong-ngomong Noor ndelok kan?”

“Iyo Bang. Mau aku lewat omahe, areke wes macak.”

“Sip,” kata Mat sambil tersenyum manis.

Setelah dirasa puas dengan penampilannya Mat pun berangkat. Mintho yang sudah tidak sabar pun segera mengikuti idolanya itu. Sebagai pemuda desa sebenarnya Mat dan Mintho layak ikut pertandingan tapi sepertinya mereka tidak menaruh minat dengan sepak bola. Mereka lebih tertarik dengan musik dan kalaupun mereka datang ke lapangan itu karena mereka ingin tampil di depan gadis-gadis desa.

“Ojo lewat kono Tho, ko samping ae,” kata Mat begitu sampai di lapangan.

“Opo’o Bang?”

“Ra popo, ayo!” ajak Mat.

Mintho mengikuti langkah Mat yang terlihat terburu-buru, tidak seperti tadi. Rupanya Mat ingin menghindari emaknya yang menggelar dagangannya di depan gerbang lapangan. Mat tidak ingin Mak Ni melihatnya dan kemudian meminta bantuannya, bisa rusak rencananya untuk berkencan dengan Noor. Lagipula dalam hatinya ada sedikit rasa malu jika sampai harus membantu emaknya jualan. Dandanannya yang sudah keren menurutnya itu tak akan cocok dengan tahu lontong. Tapi siapa yang tidak mengenalnya, penampilannya yang terlalu mencolok untuk orang desa membuat semua orang dengan gampang mengenalinya.

“Mak, kae lak Mat sih?” tanya Mak Mi yang sedang membeli tahu lontong.

“Endi?” tanya Mak Ni.

“Iko lo Mak, sing mlaku karo Mintho. Iyo kan?”

“Woo ancen arek gendeng! Jare kate nang kutho nukokno obate Mintho, lha kok malah blakrak’an nang kene. Awas engko, delok ae!” kata Mak Ni geram.

“Lah ora ngewangi Mak’e? Ancen arek saiki Mak…angel omong-omongane.”

“Mat! Mat!” teriak Mak Ni.

Demi mendengar suara emaknya, Mat mempercepat langkahnya. Mintho yang juga mendengar suara Mak Ni mencolek lengan Mat untuk memberitahu tapi Mat justru menariknya, menjauh.

“Arek edan! Penceng!”

“Wes, sabar Mak. Isin paling. Wong wes macak ganteng ngunu iku.”

“Ganteng apane? Wong koyo kukusan jebol ngunu,” kata Mak Ni geram.

“Ganteng lho Mak anakmu iku. Deloken tha, bedo karo arek-arek kene. Pinter macak sisan,” lanjut Mak Mi.

“Macak thok. Duwe anak lanang kok podo koyo perawan, macak ae penggaweane. Kesel aku iki Mi.”

“Ndang dirabekno ae, engko lak sadar dewe.”

“Iyo lek sadar lha lek tambah nemen opo ora aku dewe sing isin. Mari jaluk gitar saiki kate jaluk tukokno kaos, opo dipikire mak’e iki bos.”

“Wes Mak sing sabar. Piro Mak iku?”

“Rong ewu,” kata Mak Ni sambil menyerahkan sebungkus tahu lontong.

“Suwun Mak.”

Mat yang sudah sampai di dalam lapangan segera mencari kekasih hatinya, Noor. Tak dipedulikan emak yang tadi memanggilnya meski dia tahu dia harus menyiapkan alasan jika nanti pulang dan emak menanyainya. Semalam Mat telah berbohong pada emaknya dengan mengatakan akan mengantarkan Mintho ke Pinggir Gunung untuk membeli obat. Para pemain dari dua regu sudah siap, pemuda Dusun Ringgin sedang berhadapan dengan pemuda Dusun Jati. Wasit sudah meniup peluit dan masing-masing perwakilan regu saat ini sedang memilih gambar koin.

Pandangan Mat menyebar ke seluruh pelosok lapangan. Bola sudah menggelinding, riuh teriakan penonton yang menyemangati  regu dari dusun masing-masing pun mulai terdengar. Tak ada tempat duduk, semua penonton berdiri berdesak-desakan di belakang garis yang dibuat oleh panitia. Sesekali anak kecil berlarian, menerobos garis dan diperingatkan oleh panitia yang berjaga-jaga.

“Iko lho Bang,” kata Mintho sambil menunjuk ke arah kerumunan penonton.

“Endi?”

Mintho menunjuk sekali lagi. Benar. Meski tak begitu jelas karena jarak yang cukup jauh, Mat bisa menangkap sosok yang sedari tadi dicarinya, Noor.

“Ayo mrono!” ajak Mat.

“Ora iso Bang, rame. Ngko nabraki wong-wong malah diseneni awake dewe.”

“Halah, ora-ora. Lek ngene Noor gak iso ndelok aku.”

Mintho menggaruk-garuk kepalanya. Dalam hati dia juga takut kalau Mat memaksa mendekati Noor, itu sama artinya dengan mencari penyakit buatnya. Noor pasti akan marah-marah dan bisa dipastikan dia juga yang bakal kena.

“Yok opo lek awake dewe rodok maju ae Bang? Sing penting lak Noor iso ndelok sampeyan. Ngko lek kene mrono malah areke nesu-nesu. Lagian iku ono pak’e karo mak’e, aku wedi.”

“Iyo bener omongmu. Ayo lek ngono, kene maju ae. Yok opo lek sandinge gawange arek Jati ae? Pasti kabeh uwong iso ndelok awake dewe, kene iso melu dadi perhatiane wong-wong. Masuk ora?”

“Sip iku Bang, setuju aku. Wes tak belani macak ganteng ngene. Sopo ngerti ngko ono arek ayu sing ndelok,” kata Mintho sambil tetsenyum-senyum sendiri.

Maka mendekatkah dua pemuda tanggung dengan dandanan ala artis ibu kota itu ke arah gawang pemain dari Dusun Jati. Dandanan keduanya yang memang sangat mencolok membuat orang-orang yang melihat mereka berbisik-bisik, membuat kepala Mintho besar, bangga sekaligus sombong. Mintho memang belum bisa sepenuhnya seperti Mat yang lebih kalem, sok kalem tepatnya. Layaknya idola yang selalu dielu-elukan penggemarnya Mat berjalan dengan kepercayaan diri penuh, tak terlalu banyak gerak atau menggubar tawa, cukup senyum semenawan mungkin.

“Kene ae Tho, sip iki.”

“Oke Bang. Tepak wisan.”

Sementara itu pertandingan masih berjalan. Kedudukan belum berubah. Masing-masing pemain dari dua kubu berusaha mati-matian menjebol gawang lawan. Sorak sorai penonton masih terus membahana. Tak terlalu mengacuhkan pertandingan, Mat dan Mintho sibuk menebar pesona ke seluruh penonton di lapangan sampai tak sadar jika penyerang dari Dusun Ringgin sudah siap menembakkan bolanya, membuat penonton semakin semangat berteriak.

Duk!

Sebuah tendangan yang sangat keras menggenai sasaran. Penonton yang tadinya ramai bersorak tiba-tiba berteriak kencang dan kemudian terdiam, hening. Saat ini semua mata tertuju pada satu arah, perhatian yang tadi coba direbut Mat dan Mintho sudah mereka dapatkan.

“Bang! Sampeyan gak popo? Bang! Sadar Bang!” teriak Mintho.

Mintho menggoyang-goyang tubuh temannya itu. Mat tak bergerak. Mintho menampar-nampar kedua pipinya, mencoba menyadarkan.

“Bang ojo mati Bang. Ayo sadar Bang!” kata Mintho mulai terisak.

Orang-orang mulai bergerombol, ingin tahu apa yang terjadi. Rupanya bola yang ditendang oleh penyerang dari Dusun Ringgin tidak tepat sasaran dan justru mengenai kepala Mat yang berdiri tepat di samping gawang, membuat pemuda itu kehilangan kesadaran untuk beberapa saat.

“Makane tha lek ndelok bal-balan ora usah cedek-cedek. Yo ngene olehe,” celoteh salah seorang penonton.

“Nang ndi aku?” tanya Mat begitu sadar.

“Sampeyan wes sadar Bang, syukur lek ngono,” kata Mintho sambil memeluk temannya itu.

Penonton kembali ramai, kali ini karena melihat adegan yang menurut mereka lucu. Rasa cemas yang tadi sempat melanda mereka berubah menjadi tawa dan cemoohan.

“Cuk! Cul no aku, ngisin-ngisini ae. Ayo ndang ngaleh.”

Dengan menahan malu yang teramat sangat Mat dan Mintho pun meninggalkan lapangan. Sementara dari tempatnya berdiri, Noor yang tadi sempat cemas ikut menahan senyum.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s