MAT LONTONG: serial Arek Penceng bag 4


Kanggo Dek Noor sing tansah tak angen-angen,

Dek Noor kembange ati, Mas seneng banget akhire awakmu gelem dadi pacarku. Rasane koyo ketiban mbulan, ora kuat aku nyonggo awakku dewe saking ora percoyo. Bola-bali tak jiwiti lengenku dewe, mestikno lek iki dudu ngipi. Dek Noor tresnane ati, Mas janji ora bakal nglarani ati. Awakmu sing ben dino tak impi-impi, mung awakmu ratune ati, siji ora bakal ono liyane. Paribasane njaluk mbulan tak sanggupi tapi awakmu ngerti lek iku ora mungkin, dadi njaluki opo sing sekirane iso tak lakoni.

Dek Noor sing mesti teko lan nggudo nang ngipi, Mas ngerti tresno iki ora biasa, tresno iki mungkin mung awakmu lan aku sing iso ngerti amargo yo mung awak’e dewe sing iso ngrasakno tapi percoyo aku Dek, ora ono sing ora iso nang dunyo iki. Awakmu lan aku mung menungso, kabeh wes diatur sing kuoso. Sing tak ngerteni, aku mung nglakoni opo sing tak roso bener lan aku yakin tresno sing tak rasakno nang awakmu iki bener, paling bener sak jok’e aku urip nang dunyo sampek saiki.

Dek Noor tresnane Mas Mat, semene disik layang iki sesuk disambung maneh. Ojo lali lek katene turu dungo disik, mugo-mugo Mas iso melu mlebu nang ngipimu. Lintang nang langit sopo sing duwe, aku wes ngerti opo sing tak karepne, awakmu Dek mung awakmu. Sugeng bobok, mugo-mugo malaikat njogo turumu sampek sesuk awakmu tangi. Tresnoku gawe awakmu selawase.

Masmu sing tansah tresno awakmu,

Mat lontong

Dengan sedikit kesal Noor melipat surat yang baru dibacanya, surat dari pacar yang dipaksakannya, Mat lontong. Surat yang dititipkan Mat Lontong pada Mintho tadi sore. Reaksi yang tidak terlalu berbeda dengan biasanya karena surat itu bukan surat Mat yang pertama untuk Noor, Noor bahkan tak tahu lagi itu surat yang ke berapa. Semua surat Mat masih disimpannya meski sebagian sudah tidak dengan bentuk aslinya, sobek, lecek. Noor punya sebuah kotak kayu yang ditaruhnya di bawah ranjang, tempat dia biasa menyimpan barang-barang kesayangannya. Disitulah dia menyimpan surat-surat Mat Lontong.

Ojo Dipendem sudah selesai artinya waktu sudah semakin larut. Saat ini IlangStres Fm sedang memutar lagu-lagu lembut, lagu dengan nada-nada sendu yang lebih membuat orang (patah hati) ingin segera mengakhiri hidup daripada membuat cepat tidur. Pun begitu yang terjadi pada Noor. Dia memang baru jadian, baru punya pacar tapi apa yang dia rasakan tidak beda dengan orang yang patah hati, sakit. Bukankah dia melakukan semua ini untuk membantu Mat Lontong yang mungkin tak lagi berumur lama? Tapi melihat Noor saat ini, sepertinya dia yang akan segera hengkang dari dunia.

Lagu Utopia, Mencintaimu Sampai Mati mengalun, bukan, menghentak, menghentak perasaan Noor yang paling dalam, sakit. Ada apa dengannya? Air mata Noor mulai menetes, tak terasa. Seolah sedang menggantikan vokalisnya, lamunan Noor dibawa ke sebuah tempat, ke dunia yang lain. Noor teringat kembali masa-masa itu, masa dimana dia masih berumur sembilan tahun. Tak beda dengan teman sebayanya, Noor begitu menikmati dunia kecilnya. Bersama teman-temannya, Mintho, Rasmi, Bambang, Sugik, Tomin juga Mat, dia bermain layang-layang di tanah lapang pinggir desa. Musim seperti ini, ketika angin bertiup kencang adalah saat-saat yang dinanti Noor dan anak-anak desa Pinggir Alas lainnya. Sedari malam sudah menyiapkan layangan, benang, agar sepulang sekolah bisa langsung beraksi, memamerkan keelokan dan keunggulan layang-layang masing-masing.

Apa yang elok? Dimana keunggulan masing-masing? Yang terlihat semua tak jauh berbeda. Layang-layang sederhana dari bambu yang dipotong di belakang rumah, dikaitkan dengan benang jahit curian milik emak dan kresek hitam bekas belanjaan. Jika mata yang memandang mungkin tak indah tapi dipandangan seorang Noor juga teman-temannya inilah anugerah, sebuah bentuk keindahan yang mungkin tak ternilai, tak tergantikan. Secantik kupu-kupu, segesit burung, layang-layang terbang menyapa awan. Menimbulkan sorak juga jerit ketika satu layang-layang hampir menabrak yang lain.

“Cuk! Ati-ati tha. Awas lek ampek layanganku pedot!” teriak Noor memperingatkan Sugik.

“Iyo…yo Noor, iki angine sing gede.”

“Awas!Awas!” Rasmi ikut berteriak ketika sekali lagi layang-layang Sugik hampir mengenai layang-layang Noor.

“Menengo kon, ojo melu-melu. Wedok nok, ngerti opo?”

“Opo’o lek wedok?”

Rasmi melotot ke arah Sugik, tidak terima dengan kata-katanya. Sugik melirik sebentar kemudian kembali ke layang-layangnya, tidak ingin mencari masalah.

“Awas! Yah…yah,” teriak Mintho.

“Asu!” kali ini Noor berteriak, kesal.

Angin yang bertiup keras membuat Sugik kehilangan kendali. Benangnya mengait ke benang Noor dan membuat layang-layang Noor putus.

“Ayo diburu, paling nggak nyampek lor kali!” ajak Mat.

Mat menyerahkan kaleng penggulung benangnya ke Bambang, meminta dia menjaga layang-layangnya. Secepatnya dia bergegas, mengejar layang-layang Noor yang melayang. Melihat Noor yang hanya diam Mat pun menghentikan langkahnya.

“Ayo, kok meneng ae? Kon pisan Gik,” kata Mat.

“Lha layanganku yok opo?”

“Kon nyekel Rasmi disik.”

“Opo iso arek iku?” tanya Sugik ragu, tak rela.

“Iso cuk aku lek nyekel thok, ngunu ae,” sahut Rasmi sewot.

Meski tak rela Sugik pun menyerahkan gulungan benangnya pada Rasmi.

“Awas lek pedot!” ancamnya.

Rasmi menerima gulungan benang dari Sugik dengan perasaan dongkol. Sugik pun segera mengikuti Mintho yang sudah terlebih dulu lari. Noor masih terdiam di tempatnya, menyesali layang-layangnya yang putus. Tiba-tiba Noor terhentak, kaget. Tangan Mat meraih tangan kanannya dan langsung menariknya, mengajaknya berlari mengejar layang-layangnya. Noor masih tercengang sambil tetap berlari, memandangi Mat yang terus saja berlari sambil menggenggam tangannya.

“Kene tak ewangi,” kata Tomin yang tak tega melihat Rasmi kebingungan.

“Aku iso kok,” elaknya.

Tak lama karena kemudian Rasmi sadar tak mudah mengendalikan layang-layang dengan angin yang bertiup lumayan kencang. Dengan malu-malu Rasmi menyerahkan gulungan benang yang dikaitkan di kaleng bekas susu itu pada Tomin. Tomin pun langsung menerimanya. Setelah mengatur sebentar, diletakkannya kaleng benang itu ke tanah. Sebuah batu, agak besar, ditaruh di atasnya.

“Wes saiki garek nunggoni,” katanya.

“Suwun,” kata Rasmi masih malu.

Tomin tersenyum kemudian menjatuhkan pantatnya ke atas tanah, duduk. Rasmi mengikutinya.

“Kenek ora yo?” tanya Bambang.

“Pokok nggak ngampek lor kali yo iso.”

Ketiga anak itu pun menanti temannya sambil sesekali memperhatikan layang-layang mereka. Sementara itu Mintho, Sugik, Mat Lontong dan Noor masih berlari mengejar layang-layang Noor.

“Mandek!” teriak Noor.

Karena tidak mendapat tanggapan Noor menarik tangannya sehingga terlepas dari genggaman Mat. Mat yang menyadari kaget dan langsung berhenti.

“Opo’o?” tanyanya.

“Jarno,” katanya pelan.

Noor membungkuk, berusaha mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Mat berdiri di depannya, menunggu.

“Kon gak popo Noor?”

Noor menggeleng. Mat menarik lengannya, kali ini mengajaknya duduk. Noor menelentangkan kedua kakinya sambil memijat-mijat, rupanya dia kecapekan. Mintho dan Sugik sudah tidak kelihatan, mereka berlari terlalu kencang, tak terkejar.

“Kesel yo? Sepurane,” kata Mat merasa bersalah.

“Gak popo.”

Noor menghapus peluh yang membanjiri wajahnya dengan tangan. Mat hanya memandangi teman mainnya itu. Angin bertiup, seolah angin surga yang dikirim tuhan untuk menghilangkan gerah yang melanda Noor juga Mat, membuat dua anak manusia itu terlena. Rasa capek, kesal langsung hilang. Noor dan Mat membiarkan angan mereka terbang dipermainkan angin, seperti layang-layang. Untuk beberapa saat mereka terdiam, hening, sampai sesuatu yang tak pernah diduga sebelumnya terjadi.

Plak!

Noor menampar pipi Mat dengan keras, meninggalkan bekas telapak tangan bergurat merah di pipi temannya itu. Mat memegangi pipinya, tak tahu kalau Noor akan bereaksi sekeras itu. Mat ingin sekali bicara tapi lidahnya kelu. Akhirnya dia hanya mampu mengelus-elus pipinya yang terasa sakit. Noor yang tidak menyangka Mat akan menciumnya masih terlihat kesal. Dia pun segera berdiri kemudian berlari, pulang. Mat yang tak tahu apa yang harus dilakukan hanya diam.

“Dancuk! Dadi kon ket mau nang kene Mat? Asu!”

Sugik yang datang bersama Mintho langsung marah-marah melihat temannya itu hanya enak-enakan duduk di bawah pohon sedang dirinya dan Mintho berlari mati-matian mengejar layang-layang Noor yang putus. Mintho yang juga tidak terima hanya bersungut-sungut. Rupanya mereka tidak berhasil mengejar layang-layang Noor yang terus terbang dibawa angin sampai ke desa seberang.

“Opo’o? Kon gak trimo tha? Sopo sing medotno layangane Noor? Aku opo kon?” tanya Mat tak kalah galak.

“Lha tapi kan….”

“Tapi opo?”

“Noor endi Mat?” tanya Mintho takut-takut.

“Areke mulih. Ati-ati kon lek ngko diomongno bapake.”

“Kok aku?” tanya Mintho bingung.

“Yo kon kabeh.”

Sugik yang mendengar ancaman Mat pun jadi takut, dia takut bapak Noor akan menyalahkannya dan mungkin akan mencarinya ke rumah.

“Trus yok opo iki?” tanya Sugik.

“Ijoli no,” kata Mat.

Setelah dipikir-pikir Sugik pun menyetujui usulan Mat. Dia akan mengganti layang-layang Noor tapi karena tak berani dan Mat juga tak bersedia menemani, Sugik pun memutuskan untuk menitipkan layang-layangnya pada Mintho yang masih sepupu jauh Noor. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi kecuali Noor dan Mat juga tuhan tentunya. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah semakin sore. Sementara itu di rumah, di kamar, Noor tampak masih kesal. Tak ada yang tahu kalau Noor menangis, bukan menangisi layangannya tapi menangisi apa yang baru dialaminya. Sejak itu sesuatu yang lain muncul, mulai dirasakan oleh Noor, sesuatu yang tak dimengertinya.

-bersambung-

One thought on “MAT LONTONG: serial Arek Penceng bag 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s