MAT LONTONG: serial Arek Penceng bag 3


Berkali-kali Noor menengok ke luar jendela. Dari raut wajahnya jelas sekali dia sedang cemas, seolah-olah sesuatu yang besar menantinya. Setelah selesai membantu emaknya membersihkan rumah dia segera mandi dan saat ini dia sedang menunggu Mintho yang katanya akan datang menjemputnya. Mintho sudah mengatur pertemuannya dengan Mat Lontong dan itu yang membuat Noor cemas.

“Noor! Wedus’e mau wes dipakan opo durung?” teriakan emak mengagetkannya.

Noor memukul jidatnya. Karena terlalu memikirkan pertemuannya dengan Mat Lontong dia sampai lupa memberi makan Nugroho, kambingnya.

“Durung mak, aku lali,” teriaknya dari kamar.

“Ndang dipakan kono, ojo dijarno ae. Kae Nug wes bengak-bengok, keluwen.”

“Sampeyan ae mak, aku wes adus ngko gatel kenek ramban.”

“Aku yo wes adus. Iki kate buwuh nang Lek Mi, ngko reget klambiku.”

“Bapak ora ono ta mak?”

“Bapakmu durung mulih. Ndang dipakan kono, duwe ingon-ingon kok ra gelem ngopeni. Opo jaluk didol ae?”

Dengan lemas Noor menyeret kakinya keluar kamar. Dilihatnya emak sudah rapi, siap dengan baskom isi beras.

“Ono opo nang Lek Mi mak?”

“Mosok awakmu ora ngerti, Rasmi iku lak koncomu?”

“Rabi ta mak areke? Oleh sopo?”

“Yo wes wayahe. Jare oleh bakul endok sing biasane nuku endoke.”

Noor manggut-manggut kemudian berlalu ke kandang yang ada di belakang rumahnya. Nugroho, kambingnya yang sedari tadi berteriak-teriak tampak senang melihat Noor. Rupanya dia tahu kalau majikannya itu akan segera memberinya rumput dan daun-daunan segar. Di samping kandang tampak tumpukan rumput dan daun-daunan segar. Noor meraih dengan satu tangannya, hati-hati sekali takut daun-daun itu mengenai tubuh dan bajunya.

Begitu Noor meletakkan daun-daun itu ke tempat makanan, Nugroho langsung menyautnya. Kambing jantan itu terlihat senang. Noor memandangi kambingnya itu dengan tatapan hampa, seolah ingin menumpahkan keluh kesahnya. Selama ini dia memang menganggap Nugroho seperti temannya sendiri. Sering Noor bicara padanya manakala pikirannya gundah. Entah mengerti atau tidak tapi polah Nugroho selalu berhasil membuat Noor terhibur, bagi Noor Nugroholah satu-satunya yang mengerti dirinya.

“Noor aku budal disik!” pamit emaknya.

“Iyo mak.”

Noor masih terpaku di tempatnya berdiri. Tatapannya masih mengarah pada Nugroho yang dengan tangkas mengunyah dedaunan.

“Noor!”

Lamunan Noor langsung buyar mendengar namanya dipanggil. Rupanya yang ditunggu-tunggu sudah datang, Mintho. Noor pun langsung memaki sepupu jauhnya itu karena telah mengagetkannya.

“Cuk! Ora iso ta ora ngaget-ngageti?”

“Sepurane Noor. Yok opo wes siap ta?”

“Ket mau. Kon kesuwen.”

“Sepurane, aku sik ngarit mau. Ayo budal saiki!” ajak Mintho.

“Ora iso, emak lagi buwuh bapak yo durung mulih.”

“Lha yok opo? Wes dienteni iki karo Mat nang pos.”

“Salahmu dewe telat. Ora ono uwong nang omah, engko aku diseneni emak lek tak tinggal.”

Mintho menggaruk-garuk kepalanya. Bingung. Mat Lontong sudah menunggu di tempat tongkrongannya dan tiba-tiba Noor membatalkan pertemuan yang sudah diaturnya. Mintho memutar otak berusaha mencari jalan keluar. Dalam hatinya dia khawatir jika pertemuan ini batal bisa jadi Noor akan berubah pikiran dan itu sangat tidak diinginkannya.

“Sediluk ae Noor. Emakmu paling yo suwi. Nang ndi sih buwuhe?”

“Nang omahe Rasmi,” jawab Noor.

“Rasmi koncone kene esempe biyen? Lapo?”

“Iyo. Areke rabi karo bakul endok.”

“Gak popo Noor sediluk ae. Omahe Rasmi lak adoh sih, sing penting engko sak durunge emakmu mulih kon wes nang omah.”

“Lha lek bapakku mulih yok opo?”

“Bapakmu lak yo mesti lewat pos dadi lek mulih awakmu pasti ngerti. Iyo ora?”

Noor tampak berpikir sejenak. Masuk akal juga pikirnya. Meski masih takut membayangkan bertemu Mat Lontong tapi dalam hatinya Noor juga ingin cepat mengakhirinya. Dia tidak mau terus-terusan pusing memikirkan laki-laki itu.

“Yo wes ayo. Diluk ae.”

“Iyo,” sahut Mintho gembira.

“Tak kancinge omahku sik.”

Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci Noor pun bergegas meninggalkan rumah, mengikuti Mintho. Sementara itu di pos Mat Lontong sudah menunggu dengan cemas. Pandangannya terus saja mengawasi jalan, memastikan kalau yang ditunggunya datang. Masih dengan dandanan khasnya yang sudah disiapkan sejak semalam Mat Lontong tampil begitu sempurna, menurut dirinya sendiri tentunya.

Jari-jarinya mulai mempermainkan senar gitar dipelukannya. Perasaaannya saat ini tidak kalah gundah dengan apa yang dirasakan Noor. Meski hampir setiap hari bertemu tapi melihat wajah pujaannya itu tidak pernah mudah. Tak bisa ditepisnya jantung yang mulai berdegup kencang. Mat mencoba mencari kunci nada, mulai bersenandung untuk menghilangkan rasa cemasnya.

“A…aku bergetar…Aku bergetar disentuh dia…”

“Bang!”

Mat Lontong langsung menghentikan senandungnya demi mendengar namanya dipanggil. Jantungnya berdegup kencang. Tidak jauh dari tempatnya duduk, tiga meter darinya, berdiri sosok yang selama ini selalu mengganggu tidurnya, Noor.

“No…Noor,” panggilnya tergagap, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Mintho menarik tangan Noor, menyuruhnya mendekat. Dengan muka masam Noor mengikuti perintah Mintho. Mat Lontong yang tadi tercengang langsung melompat turun dari gubuk. Matanya tak henti-hentinya memandangi Noor membuat perasaan Noor semakin tidak karuan.

“Silahkan Bang, aku pergi dulu,” kata Mintho.

“Kate nang ndi kon?” tanya Noor.

“Ojo wedi Noor karo aku nang kene. Aku kate ngomong.”

“Iyo Noor, gak popo kok.”

“Kon ojo ngalih,” kata Noor cemas.

“Ora aku mung nang sebelah, kono lho,” kata Mintho sambil menunjuk ke arah gubuk yang ada di tengah sawah tak jauh dari gubuk tempat mereka saat ini.

“Ayo Noor lungguh disik,” ajak Mat.

Noor memandang ke arah Mintho seolah mencari pertolongan. Mintho mengangguk, matanya mengisyaratkan pada Noor agar tidak perlu khawatir. Noor pun segera naik ke gubuk diikuti Mat Lontong dan Mintho pun segera berlalu memberi kesempatan dua temannya itu untuk bicara. Baru beberapa langkah Mintho langsung berbalik seolah teringat sesuatu.

“Noor ojo lali lho yo,” katanya pada Noor.

Noor yang mengerti apa yang dimaksud Mintho hanya mengangguk pelan.

“Tak tinggal disik Bang,” pamitnya.

Mat Lontong mengangguk-angguk. Sejenak kemudian pandangannya beralih ke arah Noor yang saat ini sudah duduk di sampingnya. Noor yang tidak tahu harus berkata apa hanya diam dan berusaha menguatkan hatinya agar bisa menahan bibirnya yang saat ini sudah penuh dengan sumpah serapah, makian. Dalam perjalanan tadi Mintho sudah mewantinya agar tidak memaki, agar dia sabar dan mengikuti apa yang dikatakan Mat Lontong. Dia ingat juga pesan Mintho yang melarangnya mengungkit masalah penyakit Mat Lontong.

“Ngene lho Noor, kon lak ngerti sih lek aku seneng awakmu ket biyen. Aku ngerti ketoke mungkin awakmu angel nompo aku tapi aku gak iso mbujuki perasaanku dewe lek aku ancen duwe roso nang awakmu. Wes suwi Noor aku mendem roso iki dan aku gak iso ngilangi roso iki. Selot suwe bukane ilang tapi tambah kuat roso iki nang awakmu.”

Mat Lontong berhenti sejenak untuk menghela nafas, mengatur degup jantungnya. Noor masih diam di tempatnya, tertunduk.

“Noor?”

“Hah?” tanya Noor kaget.

“Kon ngrungokno kan?”

“Iyo…iyo,” jawabnya pelan sambil mengangguk-angguk.

“Aku pingin awakmu dadi pacarku Noor. Yok opo menurutmu?”

Jantung Noor yang sedari tadi berdegup kencang seperti terlepas dari tubuhnya. Apa yang ditakutkannya sejak kemarin terjadi juga, meski dia sudah menduga sebelumnya karena Mintho juga sudah menjelaskan semua. Jemari Noor saling meremas, mencoba melampiaskan perasaannya yang tak karuan.

“Yok opo Noor? Ojo meneng ae,” tanya Mat Lontong.

Noor menarik nafas panjang. Tanpa memandang Mat Lontong dia menguatkan diri untuk bicara.

“Aku ngerti tapi kon ngerti dewe aku koyok opo…”

“Gak popo Noor aku ngerti kok, aku paham,” tanpa menunggu Noor menyelesaikan kalimatnya Mat Lontong langsung memotong, membuat Noor gemas.

Ingin Noor memaki laki-laki di sampingnya itu tapi sekali lagi dia teringat kata-kata Mintho. Wajahnya lurus menatap jari-jarinya yang terus meremas-remas.

“Gelem kan Noor?”

“Oke tapi ono syarate,” kata Noor serius.

“Opo Noor? Ngomongo pasti tak lakoni,” kata Mat semangat.

“Aku gak gelem lek ono sing ngerti. Cukup awakmu karo aku.”

“Hah? Yo ora iso Noor, jenenge wong pacaran yo kabeh mesti ngerti.”

“Terserah lek awakmu ora gelem, aku yo ora mekso,” kata Noor sambil bersiap-siap pergi.

“Sek Noor, sabar.”

Mat Lontong tampak berpikir. Dipandanginya pujaan hatinya itu. Mana mungkin pacaran tanpa ada yang tahu, batinnya. Tentu dia ingin semua orang tahu kalau dia telah berhasil merebut hati pujaannya itu. Mat menimbang-nimbang dan kemudian.

“Yo wes ora popo tapi awakmu gelem temenan kan?”

Noor mengangguk. Mata Mat Lontong bersinar.

“Oke cinta aku setuju syaratmu. Mulai saiki awake dewe resmi pacaran dadi lek aku kirim surat balesono lho yo.”

“Ora usah cinta cintaan barang, biasa ae,” kata Noor keberatan.

“Lho yok opo kon iki Noor kene kan wes dadi pacar mosok nyeluki Noor…Mat…Mat ngono? Gak romantis iku,” protes Mat.

“Asu!”

Noor sudah tak bisa menahan bibirnya, akhirnya keluar juga makiannya. Menyadari Mat memandanginya Noor segera menutup mulutnya takut keluar lagi kata-kata kotornya.

“Sak karep asal ojo nang ngarepe uwong-uwong. Aku mulih,” kata Noor sambil segera berlalu.

Dengan sigap Mat menarik tangan Noor membuat Noor yang tidak menyangka kaget setengah mati.

“Cuk! Opo-opoan kon iki?” teriaknya kesal.

Bukannya takut Mat Lontong malah tertawa melihat kekasihnya kesal.

“Maaf cinta tapi mboknya sabar disik, ora usah kesusu.”

“Cul no tanganku,” kata Noor sambil menepiskan tangan Mat.

“Iyo…iyo. Sesuk aku apel oleh kan?”

“Ora usah. Kandani ora oleh ono sing ngerti. Wes aku mulih ngko emakku nesu lek eruh aku kluyuran sore-sore.”

Setengah berlari Noor meninggalkan Mat. Bibirnya tak henti-hentinya mengeluarkan makian. Noor ingin segera sampai di rumah dan berteriak sekencang-kencangkan, mungkin dia juga akan menangis saking kesalnya.

“Noor! Aku padamu! Aku trisno awakmu!” teriak Mat.

Saat ini sore begitu indah di mata Mat Lontong. Diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, melepaskan gundah hatinya selama ini. Cintanya telah diterima. Cinta yang selama ini sepertinya hanya bertepuk sebelah tangan. Entah dari mana datangnya tiba-tiba Mat mendengar suara Charly yang merdu menggoda telinganya, membuatnya semakin melayang dalam angan.

“Cintaku tulus padamu…sayangku hanya untukmu…cintaku tulus padamu…”

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s