MAT LONTONG: serial Arek Penceng bag 1


“Gelem yo Noor?”

Noor yang ditanya tak menjawab, dia tetap asyik dengan majalahnya.

“Noor!”

Karena tak mendapat jawaban yang bertanya pun kesal dan berteriak.

“Cuk! Lapo sih bengak-bengok?” Noor yang kaget pun langsung bereaksi dengan memaki temannya itu. Bukan itu saja majalah yang sedari tadi dipelototinya langsung dipukulkannya ke kepala si teman dan langsung membuat si teman mengaduh kesakitan.

“Loro,” kata si teman memelas sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.

“Sukur! Sopo sing ngongkon bengok-bengok nang kupinge uwong?”

“Trus yok opo? Gelem kan?”

“Apane?”

“Lah aku omong ket mau ra dirungokno?”

Si teman yang kecewa karena Noor ternyata tidak mendengarkan apa yang dia katakan akan protes tapi melihat Noor yang melotot ke arahnya diurungkan niatnya untuk melanjutkan protesnya. Ditariknya nafas cukup panjang untuk mengendalikan emosinya yang saat ini sedang dipermainkan.

“Ngene lho Noor, kon kenal kan Mat Lonthong? Sing omahe lor kali.”

Noor diam.

“Iku lho Noor anake Mak Ni sing dodol lontong tahu?”

Noor tampak berpikir.

“Mak Ni sing ider lontong tahu ben isuk iku tha?” tanyanya.

“Iyo. Ngerti kan?”

“Lek Mak Ni ngerti aku, ben dino yo lewat kene tapi lek anake aku yo ra kenal.”

“Sing areke keren iku lho Noor?”

“Sing koyok vokalise ST12 iku lho?”

Noor diam.

“Sing biasane kirim-kirim salam nang IlangStress Fm iku lho Noor?”

“Sing…”

“Iyo…iyo eling. Sing gondele loro koyok arek wedok iku kan. Sing senengane nang ndi-ndi jaketan kulit koyok wong kademen. Sing lek mlaku njinjit-njinjit koyok kate midek telek? Iyo kan?”

“Iyo. Keren kan?”

“Heh? Keren? Kon picek opo congok?”

“Lah opo’o?”

“Wes ra sah dibahas. Trus opo’o lek aku kenal areke?”

“Oh iyo dadi ngene Noor…”

Si teman yang ternyata bernama Mintho itu pun menceritakan kembali maksudnya. Mintho adalah teman baik Mat Lontong bahkan bisa dibilang mereka sudah seperti saudara. Noor sendiri bukannya tidak tahu tentang Mat Lontong. Hampir setiap hari nama itu dia dengar, di sekolah, di jalan bahkan yang lebih membuatnya kesal adalah ketika dia di rumahpun nama itu terus saja muncul. Noor yang hobi sekali mendengarkan musik dan selalu stay tune di radio kesayangannya harus menahan geram setiap kali namanya disebut oleh sang penyiar. Mat Lontong tidak pernah ketinggalan sekali pun untuk mengirimkan salam dan lagu untuknya.

Mat Lontong yang selama ini memendam rasa pada Noor meminta bantuan temannya, Mintho, untuk mengutarakan maksudnya. Dia ingin bertemu Noor. Sepertinya Mat Lontong sudah kehilangan akal untuk bisa mendekati pujaan hatinya itu karena setelah hampir setahun lebih melakukan pendekatan tak satupun yang ditanggapi oleh Noor. Ini bukan kali pertama bagi Noor, Mintho sudah pernah mengatakan sebelumnya, demi membantu sahabatnya itu. Noor tidak habis pikir kenapa Mintho yang bukan hanya temannya tapi juga masih ada hubungan saudara dengannya bisa mati-matian membela temannya yang menurut Noor penceng itu. Gaya Mat Lontong yang ngefan berat dengan vokalis ST12 itu membuat Noor merinding. Sulit sekali bagi Noor membedakan Mat Lontong atau wong edan, wong edan atau Mat Lontong.

Setiap hari dengan jaket andalan, sepatu kulit hitamnya dan anting yang bergoyang setiap kali dia menggerakkan kepalanya membuat Noor mual. Bukan apa-apa tapi mereka ini kan orang desa, yang hanya berdandan jika ada hajatan atau hari besar saja. Pagi ketika para penduduk yang sebagian besar adalah petani pergi ke sawah dengan peralatannya dan para pelajar berbondong-bondong menenteng tas, menyusuri jalan setapak menuju satu-satunya sekolah yang hanya ada di kecamatan, Mat Lontong sudah siap, dengan segala onderdilnya, di posnya. Dengan gitar butut yang diperolehnya dari hasil merayu emaknya yang menjajakan tahu lontong ke rumah-rumah dia mulai beraksi demi memikat sang pujaan hati, Noor.

Kalau saja ada jalan lain, meskipun harus menyebrangi kali Noor rela asal tidak bertemu si gila satu ini tapi apa mau dikata di desanya hanya ada satu jalan yang bisa dia lewati untuk bisa sampai di sekolah. Yang lebih menyakitkan untuk Noor adalah dia tidak bisa begitu saja lari karena jalan yang ada adalah jalan setapak di antara sawah yang bukan hanya sempit tapi juga licin, bekas embun yang belum hilang. Tempat mangkal Mat Lontong adalah sebuah rumah-rumahan sawah yang juga dimanfaatkan sebagai tempat anak-anak tak sekolah untuk nongkrong, anak-anak seperti Mat Lontong juga Mintho meski dia bau bergabung sepulang sekolah atau malam hari. Sangat strategis karena berada tepat di pinggir jalan yang setiap hari dilewati Noor.

“Maksudmu? Kon sing genah ae Min,” Noor yang emosi melayangkan tangannya ke kepala Mintho tapi Mintho yang sudah siaga langsung mengelak.

“Sabar Noor, sabar…sik tha ojo emosi. Rungokno sing genah,” kata Mintho mencoba menenangkan Noor.

“Opo sing durung genah? Kon penceng sisan Min kakean gumbul arek edan iku. Tak omongno makmu kapok kon,” ancam Noor.

“Sakno arek iku Noor, de’e iku lak gak duwe sopo-sopo maneh sak liyane mak’e. De’e iku seneng awakmu wes suwi, de’e yo serius Noor. Aku yo yakin de’e iku wong sing setia…”

“Sek tha lah Min, kon iku sakjane dulurku opo dudu sih?”

“Lho justru iku Noor, aku pingin kon seneng. Arek lanang saiki akeh sing gak genah, aku kenal Mat dan menurutku arek iku apik, keren sisan.”

“Cuk! Mumet ndasku ngene ki. Opo’o gak tok kenalno aku karo wedusmu sisan ae? Cek atimu tambah seneng?”

“Kok ngono sih Noor, temenan iki.”

“Diopahi opo kon karo Mat sampek tok belani koyo ngene ki?”

“Ora diopahi opo-opo, sumpah. Iki tulus atas dasar kekoncoan.”

“Lha terus aku tok pakakno nang koncomu sing penceng iku? Kon mbelani konco tapi gak mbelani dulurmu dewe, ngono?”

Mintho kehabisan kata-kata, dia tidak tahu harus menjelaskan apa lagi pada sepupu jauhnya itu. Wajah Mat Lontong yang memelas kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Tak tega rasanya membiarkan sahabatnya itu menderita lebih lama karena cinta. Mintho yang juga mengidolai grup band yang sama dengan Mat Lontong merasa apa yang dilakukan sahabatnya itu sebagai bentuk totalitas dan loyalitas. Dia sendiri bukannya tidak mau berdandan seperti Mat demi merasakan kedekatan dengan idolanya tapi dia tidak berani. Dia pernah meminta pada emaknya untuk membelikan jaket dan sepatu seperti yang dipakai Mat dan hasilnya emak bukan hanya marah-marah tapi memukulinya. Sedang untuk memakai anting sangat mustahil untuk saat ini karena dia masih tercatat sebagai pelajar di sebuah SMA di kecamatan. Menindik kupingnya sama juga mencari mati.

“Uripe arek iku gak suwi maneh Noor,” tiba-tiba suara Mintho memelas. “Mbuh pirang sasi maneh sing jelas ora suwi.”

“Opo maksudmu?”

“Sakjane aku gak pingin ngomong ngene tapi yok opo maneh, gak ono cara liyo. Aku ora tego ndelok arek iku,” kata Mintho pelan dengan wajah tertunduk, menghujam lantai balai-balai rumah Noor.

“Aku yo sek kaet ngerti lek ternyata arek iku loro. Jare dokter uripe gak bakal suwi soale lorone wes nemen.”

“Kate mati tha? Baguslah ora ngrepoti maneh,” kata Noor.

“Kon cek tegane sih Noor, aku iki temenan.”

“Memange loro opo? Nang dokter ndi? Kapan lorone?” tanya Noor.

Mintho yang tidak mengira Noor akan mencercanya dengan pertanyaan langsung kebingungan. Wajahnya masih menunduk.

“Pasti Mat sing ngongkon kon ngomong ngene kan? Kon kate ngapusi aku kan? Wani-wanine kon, wes bosen urip awakmu, hah?”

“Ora Noor, sumpah. Mat loro kanker,” jawab Mintho.

“Kanker opo?”

“Aku gak ngerti kanker opo, jare doktere ngono.”

“Dokter sopo? Kapan priksane?”

“Mbuh aku gak ngerti doktere, nang kecamatan kono lho. Aku ngertine sek wingi. Lek gak percoyo takok’o Mat wes opo takok mak’e.”

Noor diam. Dipandanginya wajah sepupu jauhnya itu, mencoba mencari jawaban. Dipelototinya Mintho, cowok yang hanya beda umur sebulan dengannya itu masih tertunduk dengan wajah melasnya. Belum pernah dilihatnya Mintho seperti itu dan yang membuat Noor kaget dilihatnya air mata Mintho mengalir di kedua sisi matanya. Mintho menangis.

“Lek sampek kon mbujuki aku, matek kon!”

“Ora Noor, mosok aku wani,” kata Mintho yang langsung berubah girang.

“Lapo kok kon seneng, pasti mbujuk iki. Ngapusi kon?”

“Ora Noor, aku seneng soale kon gelem mbantu Mat.”

“Sopo sing omong aku gelem?”

Mintho menggaruk-garuk kepalanya. Wajahnya tertunduk lagi.

“Cuk! Nggilani kon iki. Wes ra sah nangis. Tak ewangi tapi pisan iki ae. Trus aku kudu piye?”

“Iyo Noor pisan iki ae. De’e pingin ketemu awakmu, pingin ngomong lek seneng awakmu.”

“Ealah ngono ae tha, ben dino yo wes ketemu ngono lho.”

“Iyo tapi dudu koyok ngono, iku lak biasa. De’e pingin kon dadi pacare Noor. Gelem kan?”

“Pirang suwi?”

“Paling sekitar rong sasi.”

“Kesuwen. Trus lek areke gak sido mati piye?”

“Gak kok jare dokter gak suwi. Iso-iso mung sesasi. Paling gak de’e wes ngrasakno seneng.”

Noor diam, berpikir. Dipandangi wajah sepupunya itu. Hatinya kesal, tak mampu membayangkan jika dia harus menerima Mat Lontong yang selama ini dianggapnya pengganggu itu menjadi pacarnya. Tapi melihat Mintho yang berani bersumpah bahkan membawa nama Mak Ni dia mulai percaya. Belum lagi Mintho sampai menangis, hal yang tidak dilihatnya, kecuali ketika emak Mintho menghajarnya tapi itu pun dulu ketika mereka masih kecil.

“Yok opo Noor? Gelem kan?”

Noor mengangguk lemah.

“Tapi awas kon lek sampek mbujuki aku, ra sla…”

“Ora Noor…ora mbujuk. Tenang yo,” potong Mintho.

Noor masih melotot.

“Suwun Noor, aku tak ngabari Mat disik. Ket wingi areke ora iso turu. Entenono kabar ko aku yo,” kata Mintho sambil meraih tangan Noor untuk disalami yang membuat tangan dan badan Noor terguncang.

“Wes…wes cul no, coplok ngko tanganku. Iso ngijoli tha?”

Mintho meringis dan langsung pamit. Dengan setengah berlari dia keluar dari rumah Noor. Tidak ada yang tahu apa yang ada di kepalanya. Noor yang masih terpaku hanya memandanginya, entah apa yang akan terjadi padanya.

-bersambung-

One thought on “MAT LONTONG: serial Arek Penceng bag 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s